Gangguan Pencernaan pada Anak

Banyak faktor yang menyebabkan gangguan pencernaan pada anak diantaranya salah mengonsumsi makanan dan tahapan makan tidak dilakukan dengan baik dan benar.  Saluran cerna pada anak belum sempurna, karenanya bayi tidak bisa langsung mengonsumsi makanan berat dan saluran cernanya belum siap.

Menurut Dr.dr.Pramita G. Dwi Poerwantoro, Sp.A (K) sebaiknya anak mulai dilatih makan sejak usia 6 bulan. Perkenalkan anak dengan dengan proses melumat makanan yang cair, misalnya biskuit yang dicairkan.  Pada saat usianya mencapai usia 9 bulan, perkenalkan anak dengan makanan lunak yang mendorongnya untuk mengunyah, misalnya nasi tim.

Sehingga ketika ulang tahun pertamanya, moms sudah bisa melihat anak mengonsumsi makanan yang juga dikonsumsi anggota keluarga lain.

Selain tahapan makan yang benar, anak juga harus diberikan komposisi makanan yang memenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya. Komposisi makanan yang tidak benar akan menghambat perkembangan, memengaruhi kualitas hidup anak dan menyebabkan gangguan pencernaan.

Gangguan Pencernaan dan Autisme

Menurut Dr. Melly Budhiman. SpKJ, 80% kondisi Autisme menyebabkan gangguan pencernaan. Orang tua yang anaknya mengalami autis, kerap mengeluh anaknya hanya bisa makan makanan tertentu, misalnya susu dan mie (makanan yang tidak dikunyah dan langsung ditelan) serta tidak suka makan sayur dan buah. Bila BAB sangat bau dan keras, sehingga kondisi ini bisa menyebabkan anak sulit tidur/tidur hingga larut. Bila si anak mengonsumsi makanan tertentu, kondisi anak bisa menjadi lebih hyper, tantrum/marah-marah, serta mudah sakit.

Sulit makan/makan secara selektif (pilih-pilih) mengakibatkan tubuh anak kekurangan gizi dan vitamin, sistem pencernaan pun menjadi buruk. Akibatnya makanan pun tidak tercerna secara total dan menjadi pupuk bagi perkembangbiakan jamur dan bakteri di dalam usus.  Anak bisa mengalami alergi pada makanan dan kondisi leaky gut (usus yang luka dan berlubang). Makanan yang belum tercerna total bisa lolos melalui lubang tersebut dan menjadi racun di otak.

Sedangkan kesulitan BAB yang disebabkan kurangnya konsumsi makanan berserat,  jika dibiarkan akan terjadi infeksi usus menahun.

Anak yang mengalami gangguan pencernaan memiliki gejala diare, muntah, pilih-pilih makanan, mudah gumoh, berat badan anak tidak naik-naik, mulutnya beraroma tidak sedap, batuk kronis berulang, dan sering merasa sesak dada.

Refluks atau gumoh pada bayi usia 6 bulan ke bawah merupakan kondisi yang normal karena belum sempurnanya saluran cerna. Namun, perlu diwaspadai jika gumoh terjadi pada anak usia di atas 2 tahun, jika masih terjadi gumoh maka anak terkena GERD (GastroEsophageal Reflux Disease) atau gangguan lambung.

Gangguan pencernaan yang tidak segera diatasi akan menyebabkan gangguan pencernaan permanen dan bisa menjadi racun di otak, kondisi inlah yang memperburuk anak dengan kondisi autisme.

Autisme sendiri lebih banyak menyerang anak laki-laki dari pada anak perempuan dengan skala perbandingan 4:1, karena sewaktu masih di rahim, bayi perempuan dilindungi oleh hormon estrogen, dengan demikian otak anak perempuan lebih kuat dari anak laki-laki.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: